Definisi Kepercayaan 

Menurut Sheth dan Mittal, Kepercayaan (trust) merupakan faktor paling krusial dalam setiap relasi, sekaligus berpengaruh pada komitmen. Trust bisa diartikan sebagai kesediaan untuk mengandalkan kemampuan, integritas dan motivasi pihak lain untuk bertindak dalam rangka memuaskan kebutuhan dan kepentingan seseorang sebagaimana disepakati bersama secara implisit maupun eksplisit.

Menurut Rusdin, Kepercayaan adalah kompenen yang berharga dalam setiap keberhasilan menjalin hubungan dan lebih jauh berfungsi sebagai upaya untuk mengurangi resiko serta membangun hubungan jangka panjang dan meningkatkan komitmen.


Menurut Rousseau et al, kepercayaan adalah wilayah psikologis yang

merupakan perhatian untuk menerima apa adanya berdasarkan harapan terhadap

perilaku yang baik dari orang lain.

Berdasarkan definisi-definisi menurut para ahli diatas, saya dapat menarik kesimpulan bahwa, Trust (Kepercayaan) adalah sebuah harapan. Dimana seseorang individu dapat mempercayai seseorang atau pemimpin yang mempercayai anggota oraganisasinya dalam berbuat kebaikan dan sebaliknya individu itu akan melakukan dengan sebaik mungkin.


Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepercayaan

Kepercayaan ialah harapan positif.Faktor atau kunci mempengaruhi kepercayaan ada lima dimensi, yaitu :

1.  Integrity (Integritas)

       Integritas adalah sifat-sifat yang jujur dan bermoral.Kejujuran adalah unsur yang menentukan dalam peristiwa komunikasi.Kejujuran tidak saja menjadikan komunikasi menjadi efektif, tetapi juga mampu menciptakan pemahaman yang baik antara komunikasi dan komunikator.Pesan yang dilandasi kejujuran mengarahkan komunikasi terhindar dari distorsi.


2.  Competence (Kompetensi)

Kompetensiialah sifat, pengetahuan, dan pribadi seseorang yang relevan dalam menjalankan tugasnya secara efektif.

Kompetensi terdiri atas kompetensi generik dan kompetensi spesifik.

·      Kompetensi generik

            Kompetensi yang bersifat umum yang harus dimiliki setiap pekerja.

·      Kompetensi spesifik

             Kompetensi khusus untuk mengerjakan pekerjaan khusus.


3.  Concistency (Konsistensi)

     Konsistensi ialah sifat kokoh atau teguh (presistent) pada pendirian, meskipun berbagai ancaman mengahadang.Orang yang konsisten dapat diramalkan tingkah lakunya, tidak mudah beruba-ubah perilakunya (sikap, pikiran, dan perbuatannya), ucapan janjinya dapat dipercaya, serta cocok antara kata dan perbuatannya.Ketidakkonsistenan antara ucapan dan perbuatan, janji dan buktinya, dapat mengurangi bahkan menghilangkan kepercayaan.

4.  Loyalty (Kesetiaan)

    Kesetiaan ialah keinginan untuk selalu melindungi, menyelamatkan, mematuhi, atau taat pada apa yang disuruh atau dimintanya, dan penuh  pengabdian. Orang yang setia tidak akan berkhianat, serong, atau selingkung.


5.  Openness (Keterbukaan)

    Keterbukaan ialah keadaan dimana setiap orang yang terkait dengan pendidikan dapat mengetahui proses dan hasil pengambilan keputusan dan kebijakan sekolah. Keterbukaan sama dengan polos, apa adanya dan tidak bohong, tidak curang, jujur, dan terbuka terhadap publik tentang apa yang dikerjakan oleh sekolah


Jenis-Jenis Kepercayaan


Dalam hubungan organisasi ada tiga, yaitu:


1.               Kepercayaan berbasis pada kekuatan

      Kepercayaan berbasis pada kekuatan akan berfungsi hanya pada tingkat bahwa hukuman itu mungkin, konsekuensi nya jelas dan hukuman sesungguhnya dijatuhkan jika kepercayaan dilanggar. Lebih dari itu potensi kerugian dari interaksi masa depan dengan pihak lain harus berimbang dengan potensi yang diperoleh dari melanggar pengharapan. Terlebih lagi pihak yang berpotensi dirugikan harus mau memperkenalkan ancaman pada orang yang melanggar kepercayaan tersebut.Contoh dari kepercayaan berbasis kekuatan adalah hubungan manajer dengan karyawan baru.Sebagai karyawan, anda umumnya percaya pada boss baru walaupun sedikit saja pengalaman yang bisa menjadi landasan bagi kepercayaan anda.

2.     Kepercayaan berbasis pada pengetahuan

   Sebagian besar hubungan organisasi berakar pada kepercayaan berbasis pengetahuan.Kepercayaan yang didasarkan pada predictabilitas perilaku yang berasal dari riwayat interaksi kepercayaan itu ada jika anda memiliki informasi yang memadai tentang seseorang sehingga anda memhami bahwa mereka cukup mampu memperkirakan secara tepat perilaku mereka.

        Kepercayaan ini mengandalkan informasi dan bukannya ketakutan. Pengetahuan pihak lain tentang predictabilitas tentang perilakunya menggantikan kontrak hukuman dan kesepakatan hukum yang lazim yang terdapat pada kepercayaan berbasis ketakutan. Pengetahuan ini berkembang dari waktu ke waktu, umumnya sebagai fungsi dari pengalaman yang membangun kepercayaan akan sifat dapat dipercaya dan predictabilitas. Semakin baik anda mengenal seseorang semakin akurat anda dapat memperkirakan apa yang dia lakukan.


3.  Kepercayaan berbasis pada identifikasi

          Tingkat kepercayaan paling tinggidicapai bila terdapat hubungan emosional antara dua pihak. Hal itu kemungkinan satu pihak bertindak sebagai agen bagi pihak lain dan menggantikan orang itu dalam transaksi interprasional. Ini disebut kepercayaan berbasis identifikasi. Kepercayaan ini ada karna masing-masing pihak saling memahami maksud masing-masing dan menghargai keiginan pihak lain. Pengertian ini berkembang ke titik dimana masing-masing pihak dapat bertindak secara efektif bagi yang lain.

      Contoh dari kepercayaan berbasis identifikasi adalah pasangan suami istri yang telah lama menikah dan hidup berbahagia. Suami mempelajari apa yang penting bagi istrinya dan mengantisipasi tindak-tindakan itu. Pada giliran isteri percaya bahwa suami akan mengantisipasi apa yang penting baginya tanpa harus meminta. Peningkatan identifikasi memungkinkan masing-msing pihak berfikir seperti yang lain, merasa seperti yang lain, dan menanggapi seperti yang lain.


Cara Mendapatkan Kepercayaan dalam Diri

        Sudah tidak diragukan lagi  bahwa setiap orang pasti ingin dirinya  terus  berkembang  untuk  menjadi  lebih  baik. Membangun  diri  yang  baru  bukan  semata-mata  dalam artian fisik  atau tampilan  luar  (outer  beauty), namun juga kondisi  yang  ada di dalam atau yang  biasa kita  sebut  inner beauty.

     Di dalam  tubuh  manusia terdapat  3  (tiga)  komponen  yang  sangat  penting,  yaitu Body,  Mind,  dan  Soul.   Jika  ingin  membangun diri  kita  yang baru,  tiga  komponen  inilah  yang  harus  kita  perhatikan, yang  mana  semua  komponen  tersebut  butuh  suatu pembersihan.

1.            Body Cleansing

2.            Mind Cleansing



3.            Soul Cleansing

Pastinya kalian udah nggak merasa asing kan dengan kata motivasi, nah disini saya akan ngejelasin yang dimaksud dengan motivasi, kalau ditanya kenapa, soalnya nggak mungkin kan kalian bisa memotivasi diri kalian sendiri ataupun orang lain tanpa kalian tau apasih sebenarnya motivasi itu. terus juga nggak jaman kan yang namanya sok sokan motivasi orang lain tapi nggak tau apasih motivasi yang terbaik dan terbenar. untuk itu disini saya akan coba membuat kalian lebih tau tentang motivasi. 
Motivasi adalah sebuah dorongan yang memiliki sebuah arah untuk mencapai sebuah tujuan.Dimana dorongan tersebut yang menciptakan sebuah perilaku atau sikap, yang di dalamnya terdapat acuan atau pedoman untuk mencapainya.Motivasi secara tidak langsung dibutuhkan untuk setiap individu dalam kehidupan sehari – hari.

Motivasi sangat penting dalam kehidupan sehari- hari, karena dengan motivasi yang tinggi dapat mencapai hasil yang maksimal. Dengan motivasi yang kuat, daya dorong  seseorang pun kuat untuk meningkatkan kualitas kerjanya. Motivasi dapat diciptakan atau ditingkatkan dengan kemampuan manajemen dalam memenuhi kebutuhan.
Untuk lebih memperjelas nih pengertian dasar dari motivasi, saya ngejabarin pendapat-pendapat dari para ahli nih:
Menurut Schuk, et al.,“Motivation is the process wherebye goal- directed activity is instigated and sustained”.  (Motivasi adalah proses melalui kegiatan pencapaian tujuan yang telah mendorong dan berkelanjutan).
Menurut Stephen P. Robbins,“Motivation as the willingness to exert high levels of effort to ward organizational goals, conditional by effort’s ability to satisfy some induvidual need”.  (motivasi sebagai suatu kerelaan untuk berusaha seoptimal mungkin dalam pencapaian tujuan organisasi yang dipengaruhi oleh kemampuan usaha untuk memuaskan beberapa kebutuhan individu).
Menurut Merle J. Moskowits,“Motivation is usually defined the initiatif and direction of behavior and the study of motivation is in effect the study of course of behavior”.  (Motivasi didefinisikan secara umum sebagai insiatif dan pengarahan tingkah laku dan pengajaran motivasi sebenarnya merupakan pembelajaran tingkah laku).
Menurut George R. Terry,“Motivation is the desire within an individual that stimulates him or her to action”.  (Motivasi adalah keinginan di dalam seorang individu yang mendorong ia untuk bertindak).
Menurut Sardiman,”Motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan atau mendesak”. 

Dari pendapat-pendapat para ahli tersebut saya mengambil kesimpulan bahwa motivasi adalah suatu keinginan yang menjadi daya penggerak yang menjadikan suatu inisiatif dari dalam diri seseorang atau dari orang lain untuk pencapaian tujuan.

Tau gak kalian?, ternyata motivasi itu punya banyak teori-teori yang mendukung looohhh.... untuk lebih jelasnya yuk kita bahas.
Stephen robbins  dan judge mengelompokan teori motivasi dalam dua kategori berdasarkan perkembangannya, diantaranya :
1.            Early theories of motivatin
Yang termasuk dalam early theories of motivation , antaralain:
a)           Hierarki Teori Kebutuhan (Hierarchical of Needs Theory)
Menurut Abraham Maslow bahwa pada setiap diri manusia itu terdiri atas lima kebutuhan yaitu Kebutuhan Fisik terdiri dari kebutuhan akan perumahan, makanan, minuman, dan kesehatan. Kebutuhan rasa aman dalam dunia kerja, pegawai menginginkan adanya jaminan sosial tenaga kerja, pensiun, perlengkapan keselamatan kerja, dan kepastian dalam status kepegawaian. Kebutuhan sosial, kebutuhan ini berkaitan dengan menjadi bagian dari orang lain, dicintai orang lain, dan mencintai orang lain.
Kebutuhan pengakuan, kebutuhan yang berkaitan tidak hanya menjadi bagian dari orang lain. Sedangkan kebutuhan untuk aktualisasi diri, yaitu kebutuhan untuk menggunakan kemampuan, skill, dan potensi.









b)           Teori X dan Y Mc. Gregor
Teori X dan Y, Douglas McGregor yang dikutip oleh Malayu S.P Hasibuan (2003:160) mengajukan dua pandangan yang berbeda tentang manusia, negatif dengan tanda label x dan positif dengan tanda label y.
o Teori X (negatif) merumuskan asumsi-asumsi sebagai berikut:
1)     Rata-rata karyawan malas dan tidak suka bekerja.
2)     Umumnya karyawan tidak berambisi mencapai prestasi yang optimal
        dan selalu menghindari tanggung jawabnya dengan cara
        mengkambinghitamkan orang lain.
3)    Karyawan lebih suka dibimbing, diperintah, dan diawasi dalam
        melaksanakan pekerjaannya.
4)    Karyawan lebih mementingkan diri sendiri dan tidak memperdulikan tujuan
        organisasi.

o Teori Y (positif) memiliki asumsi-asumsi sebagai berikut:

1)  Rata-rata karyawan rajin dan menganggap sesungguhnya bekerja, sama
      wajarnya dengan bermain-main dan beristirahat. Pekerjaan tidak perlu
     dihindari dan dipaksakan, bahkan banyak karyawan tidak betah dan merasa
     kesal tidak bekerja.
2)  Lazimnya karyawan dapat memikul tanggung jawab dan berambisi untuk
     maju dengan mencapai prestasi kerja yang optimal.
3) Karyawan selalu berusaha mencapai sasaran organisasi dan
   mengambangkan dirinya untuk mencapai sasran itu. Organisasi seharusnya
 memungkinkan karyawan mewujudkan potenisnya sendiri dengan memberikan           sumbangan pada tercapainya sasaran perusahaan.

c)            Teori Herzberg
     Menurut Hezberg adalah teori yan ia kembangkan lagi berdasarkan teori
Hiegiene yakni, orang menginginkan dua macam faktor kebutuhan, yaitu:
(1) Kebutuhan akan kesehatan atau kebutuhan akan pemeliharaan
  (maintenance factors). Faktor kesehatan merupakan kebutuhan yang
   berlangsung terus-menerus, karena kebutuhan ini akan kembali pada titik nol
 setelah dipenuhi. Faktor-faktor pemeliharaan meliputi balas jasa, kondisi kerja
  fisik, supervisi, macam-macam tunjangan.
(2)    Faktor pemeliharaan yang menyangkut kebutuhan psikologis seseorang.
    Kebutuhan ini meliputi serangkaian kondisi intrinsik, kepuasan pekerjaan
    yang apabila terdapat dalam pekerjaan akan menggerakkan tingkat motivasi
  yang kuat, yang dapat menghasilkan prestasi yang baik.

d)           Teori Kebutuhan McClelland’s (McClelland’s Theory of Needs)
McClelland theoryof needs memfokuskan kepada tiga hal, yaitu:
a.  Kebutuhan dalam mencapai kesuksesan: kemampuan untuk mencapai
   hubungan kepada standar perusahaan yang telah ditentukan juga perjuangan
    karyawan untuk menuju keberhasilan.
b.   Kebutuhan dalam kekuasaan atau otoritas kerja: kebutuhan untuk membuat
   orang berperilaku dalam keadaan yang wajar dan bijaksana didalam tugasnya
    masing-masing
c.  Kebutuhan untuk berafiliasi: hasrat untuk bersahabat dan mengenal lebih
   dekat rekan kerja.

2.            Contemporary theories of motivation
Yang termasuk dalam Contemporary theories of motivation, antara lain:
a)           Self-Determination Theory
Berbagai teori atau model motivasi yang telah dibahas di muka dapat digolongkan sebagai model kognitif motivasi karena didasarkan pada kebutuhan seseorang berdasarkan persepsi orang yang bersangkutan berarti sifatnya sangat subyektif. Perilakunya pun ditentukan oleh persepsi tersebut.
Padahal dalam kehidupan organisasional disadari dan diakui bahwa kehendak seseorang ditentukan pula oleh berbagai konsekwensi ekstrernal dari perilaku dan tindakannya. Artinya, dari berbagai faktor di luar diri seseorang turut berperan sebagai penentu dan pengubah perilaku. Dalam hal ini berlakulah apaya yang dikenal dengan “hukum pengaruh”
yang menyatakan bahwa manusia cenderung untuk mengulangi perilaku yang mempunyai konsekwensi yang menguntungkan dirinya dan mengelakkan perilaku yang mengibatkan perilaku yang mengakibatkan timbulnya konsekwensi yang merugikan. Contoh yang sangat sederhana ialah seorang juru tik yang mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik dalam waktu singkat. Juru tik tersebut mendapat pujian dari atasannya. Pujian tersebut berakibat pada kenaikan gaji yang dipercepat. Karena juru tik tersebut menyenangi konsekwensi perilakunya itu, ia lalu terdorong bukan hanya bekerja lebih tekun dan lebih teliti, akan tetapi bahkan berusaha meningkatkan keterampilannya, misalnya dengan belajar menggunakan komputer sehingga kemampuannya semakin bertambah, yang pada gilirannya diharapkan mempunyai konsekwensi positif lagi di kemudian hari.
Contoh sebaliknya ialah seorang pegawai yang datang terlambat berulangkali mendapat teguran dari atasannya, mungkin disertai ancaman akan dikenakan sanksi indisipliner. Teguran dan kemungkinan dikenakan sanksi sebagi konsekwensi negatif perilaku pegawai tersebut berakibat pada
 modifikasi perilakunya, yaitu datang tepat pada waktunya di tempat tugas. Penting untuk diperhatikan bahwa agar cara-cara yang digunakan untuk modifikasi perilaku tetap memperhitungkan harkat dan martabat manusia yang harus selalu diakui dan dihormati, cara-cara tersebut ditempuh dengan “gaya” yang manusiawi pula
b)           Teori Penentuan Tujuan  (Goal setting theory)
Teori penentuan tujuan adalah teori yang mengemukakan bahwa niat untuk mencapai tujuan merupakan sumber motivasi kerja yang utama.[7] Artinya, tujuan memberitahu seorang karyawan apa yang harus dilakukan dan berapa banyak usaha yang harus dikeluarkan.
Edwin Locke mengemukakan bahwa dalam penetapan tujuan memiliki empat macam mekanisme motivasional yakni :
(a) tujuan-tujuan mengarahkan perhatian;
(b) tujuan-tujuan mengatur upaya;
(c) tujuan-tujuan meningkatkan persistensi; dan
(d) tujuan-tujuan menunjang strategi-strategi dan rencana-rencana kegiatan
Bagan berikut ini menyajikan tentang model instruktif tentang penetapan tujuan.

c)            Teori evaluasi kognitif  (Self-efficacy Theory)
Teori evaluasi kognitif adalah teori yang menyatakan bahwa pemberian penghargaan-penghargaan ekstrinsik untuk perilaku yang sebelumnya memuaskan secara intrinsik cenderung mengurangi tingkat motivasi secara keseluruhan. Teori evaluasi kognitif telah diteliti secara eksensif dan ada banyak studi yang mendukung
d)           Teori penguatan (Reinforcement Theory)
Teori penguatan adalah teori di mana perilaku merupakan sebuah fungsi dari konsekuensi-konsekuensinya jadi teori tersebut mengabaikan keadaan batin individu dan hanya terpusat pada apa yang terjadi pada seseorang ketika ia melakukan tindakan.
Berbagai teori atau model motivasi yang telah dibahas di muka dapat digolongkan sebagai model kognitif motivasi karena didasarkan pada kebutuhan seseorang berdasarkan persepsi orang yang bersangkutan berarti sifatnya sangat subyektif. Perilakunya pun ditentukan oleh persepsi tersebut.
Padahal dalam kehidupan organisasional disadari dan diakui bahwa kehendak seseorang ditentukan pula oleh berbagai konsekwensi ekstrernal dari perilaku dan tindakannya. Artinya,
 dari berbagai faktor di luar diri seseorang turut berperan sebagai penentu dan pengubah perilaku. Dalam hal ini berlakulah apaya yang dikenal dengan “hukum pengaruh” yang menyatakan bahwa manusia cenderung untuk mengulangi perilaku yang mempunyai konsekwensi yang menguntungkan dirinya dan mengelakkan perilaku yang mengibatkan perilaku yang mengakibatkan timbulnya konsekwensi yang merugikan. Contoh yang sangat sederhana ialah seorang juru tik yang mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik dalam waktu singkat. Juru tik tersebut mendapat pujian dari atasannya. Pujian tersebut berakibat pada kenaikan gaji yang dipercepat. Karena juru tik tersebut menyenangi konsekwensi perilakunya itu, ia lalu terdorong bukan hanya bekerja lebih tekun dan lebih teliti, akan tetapi bahkan berusaha meningkatkan keterampilannya, misalnya dengan belajar menggunakan komputer sehingga kemampuannya semakin bertambah, yang pada gilirannya diharapkan mempunyai konsekwensi positif lagi di kemudian hari.
Contoh sebaliknya ialah seorang pegawai yang datang terlambat berulangkali mendapat teguran dari atasannya,
mungkin disertai ancaman akan dikenakan sanksi indisipliner. Teguran dan kemungkinan dikenakan sanksi sebagi konsekwensi negatif perilaku pegawai tersebut berakibat pada modifikasi perilakunya, yaitu datang tepat pada waktunya di tempat tugas. Penting untuk diperhatikan bahwa agar cara-cara yang digunakan untuk modifikasi perilaku tetap memperhitungkan harkat dan martabat manusia yang harus selalu diakui dan dihormati, cara-cara tersebut ditempuh dengan “gaya” yang manusiawi pula
e)           Teori keadilan (Equity theory/organizational jutice)
Teori keadilan adalah teori bahwa individu membandingkan masukan-masukan dan hasil pekerjaan mereka dengan masukan-masukan dan hasil pekerjaan orang lain, dan kemudian merespons untuk menghilangkan ketidakadilan.
Inti teori ini terletak pada pandangan bahwa manusia terdorong untuk menghilangkan kesenjangan antara usaha yang dibuat bagi kepentingan organisasi dengan imbalan yang diterima. Artinya, apabila seorang pegawai mempunyai persepsi bahwa imbalan yang diterimanya tidak memadai, dua kemungkinan dapat terjadi, yaitu :
• Seorang akan berusaha memperoleh imbalan yang lebih besar,  atau Mengurangi intensitas usaha yang dibuat dalam melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
• Dalam menumbuhkan persepsi tertentu, seorang pegawai biasanya menggunakan empat hal sebagai pembanding, yaitu :
o Harapannya tentang jumlah imbalan yang dianggapnya layak diterima berdasarkan kualifikasi pribadi, seperti pendidikan, keterampilan, sifat pekerjaan dan pengalamannya;
o Imbalan yang diterima oleh orang lain dalam organisasi yang kualifikasi dan sifat pekerjaannnya relatif sama dengan yang bersangkutan sendiri;
o Imbalan yang diterima oleh pegawai lain di organisasi lain di kawasan yang sama serta melakukan kegiatan sejenis;
o Peraturan perundang-undangan yang berlaku mengenai jumlah dan jenis imbalan yang merupakan hak para pegawai
Pemeliharaan hubungan dengan pegawai dalam kaitan ini berarti bahwa para pejabat dan petugas di bagian kepegawaian harus selalu waspada jangan sampai persepsi
ketidakadilan timbul, apalagi meluas di kalangan para pegawai. Apabila sampai terjadi maka akan timbul berbagai dampak negatif bagi organisasi, seperti ketidakpuasan, tingkat kemangkiran yang tinggi, sering terjadinya kecelakaan dalam penyelesaian tugas, seringnya para pegawai berbuat kesalahan dalam melaksanakan pekerjaan masing-masing, pemogokan atau bahkan perpindahan pegawai ke organisasi lain

f)            Teori Harapan (Expectancy Theory Victor  H. Vroom)
Victor H. Vroom, dalam bukunya yang berjudul “Work And Motivation” mengetengahkan suatu teori yang disebutnya sebagai “ Teori Harapan”. Menurut teori ini, motivasi merupakan akibat suatu hasil dari yang ingin dicapai oleh seorang dan perkiraan yang bersangkutan bahwa tindakannya akan mengarah kepada hasil yang diinginkannya itu. Artinya, apabila seseorang sangat menginginkan sesuatu, dan jalan tampaknya terbuka untuk memperolehnya, yang bersangkutan akan berupaya mendapatkannya.
Dinyatakan dengan cara yang sangat sederhana, teori harapan berkata bahwa jika seseorang menginginkan sesuatu dan harapan untuk memperoleh sesuatu itu cukup besar, yang bersangkutan akan sangat terdorong untuk memperoleh hal yang diinginkannya itu. Sebaliknya, jika harapan memperoleh hal yang diinginkannya itu tipis, motivasinya untuk berupaya akan menjadi rendah.
Di kalangan ilmuwan dan para praktisi manajemen sumber daya manusia teori harapan ini mempunyai daya tarik tersendiri karena penekanan tentang pentingnya bagian kepegawaian membantu para pegawai dalam menentukan hal-hal yang diinginkannya serta menunjukkan cara-cara yang paling tepat untuk mewujudkan keinginannnya itu. Penekanan ini dianggap penting karena pengalaman menunjukkan bahwa para pegawai tidak selalu mengetahui secara pasti apa yang diinginkannya, apalagi cara untuk memperolehnya.
              
   Newstrom mengemukakan bahwa sebagai indikator  motivasi adalah:
a)           Engagement, merupakan janji pekerja untuk menunjukan tingkat antusiasme, intensiatif, dan usaha untuk meneuskan.
b)           Commitment, adalah suatu tingkatan dimana pekerja mengikat dengan orgnisasi dan menunjukan tindakan organizational citizenship.
c)            Satisfaction, kepuasan merupakan ferleksi pemenuhan kontrak psikologis dan memenuhi harapan di tempat kerja.
d)           Turnover , merupakan kehilangan pekerjaan yang dihagai..

Nah sekian deh materi yang saya ulas tentang motivasi, dalam penerapannya saya ada vidio nih tentang motivasi selamat menonton...